''Batik Krakatau Khas Lampung'' Hasil Tangan Warga Katibung
-->
Kategori Berita
POLLING PILKADA LAMPUNG SELATAN 2020
NANANG ERMANTO
HIPNI
TONY EKA CHANDRA
BELUM ADA PILIH

Header Menu

Rabu, 08 Februari 2017

''Batik Krakatau Khas Lampung'' Hasil Tangan Warga Katibung

Redaksi
"Kita berharap pemerintah lebih memperhatikan lagi, karena ini bisa menjadi aset daerah yang sangat berharga. Seperti di Magelang yang menjadi juara 1 lomba Batik Nasional''
Katibung, Kaliandanews.com - Berawal saat melihat ibu-ibu dikampungnya, yang sebagian kegiatannya bekerja sebagai tenaga upah kebun dikampungnya. Arsyad (38) terpikir untuk membina ibu-ibu di Dusun Campang Kanan, Desa Tanjungan, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, agar lebih mandiri.

Foto: Warga Katibung Sedang Membuat Batik Krakatau (KN)
Menurut Arsyad sebagai Ketua Kelompok Batik (Gapotik) Krakatau, sekitar bulan Januari 2016 lalu, dirinya mendapat ide dari Lusiana (34) warga sekitar yang juga sebagai pengajar membuat batik tulis. Ide itu diterima baik oleh Arsyad, lalu mereka mulai mengumpulkan ibu-ibu sekitar, dengan tujuan melakukan diskusi awal langkah pelatihan pembuatan batik tulis.

Foto: Warga Katibung Sedang Membuat Batik Krakatau (KN)
Setelah setuju, dengan dana swadaya masyarakat, ibu-ibu sekitar mulai membeli peralatan serta bahan yang dikirim langsung dari Magelang, Jawa Tengah, mereka mulai pelatihan di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) di daerah sekitar.

"Ya mereka berfikir, daripada tidak ada kegiatan dirumah dan bisa mengawasi anak-anak sambil membuat batik," ucap Arsyad kepada Kaliandanews.com, Rabu (08/02)

Arsyad berharap dengan adanya kegiatan ini, ibu-ibu sekitar bisa mengurangi beban kepala rumah tangga masing-masing, serta bisa memberikan uang jajan kepada anak mereka.

"Semoga bisa berkembang, karena di Lampung khususnya Lampung Selatan sendiri jarang ada batik tulis, dan berharap mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah," kata Arsyad yang juga sebagai Kepala Dusun sekitar.

Sementar Lusiana mengaku dirinya sangat senang dengan semangat ibu-ibu, yang telah mandiri membuat batik tangan setelah mendapatkan pelatihan selama 2 bulan. Dibulan berikutnya, batik tangan hasil karya warga sekitar sudah bisa dikemas dan dijual.

Foto: Warga Katibung Sedang Membuat Batik Krakatau (KN)
"Pengerjaan batik ini paling lama 2 hari, tergantung tingkat kerumitannya. Untuk motif-motif bunga biasanya pengerjaannya hanya 1 hari," ucap Lusiana.

Harga penjualan perlembar kain tapis yang sudah jadi berukuran 2x1 meter juga bervariasi, mulai dari harga Rp. 200 ribu - Rp. 1 juta, sesuai dengan motif dan makna yang terkandung didalamnya.

Lusiana juga mengungkapkan, butuh kesabaran khusus untuk melatih ibu-ibu didesa membuat batik tangan, karena hampir seluruhnya tidak mengerti dan memang tidak tahu sepenuhnya.

"Pertama kita ajarkan gerakan tangan menggunakan pensil dan digambar di atas kertas, setelah bener-benar paham baru kita gambar di kain. Untuk kain sendiri kita pilih bahan prismisma yang memang khusus untuk buat batik," ujarnya.

Semua pengerjaan dari mulai pewarnaan kain, pelukisan, pencantingan sampai dengan perebusan, semuanya dilakukan secara manual menggunakan tangan dan dikerjakan oleh sekitar 25 orang ibu-ibu sekitar. Mereka saat ini sudah menghasilkan sekitar 150 lembar kain batik dari karya mereka.

Saat ini hanya dipasarkan disekitaran Katibung seperti guru-guru dan rumahan saja. Saat Lampung Selatan Fair beberapa bulan lalu, mereka sempat memamerkan hasil mereka, tapi dari pemerintah seolah tidak peduli dan membiarkan mereka begitu saja.

Foto: Warga Katibung Sedang Membuat Batik Krakatau (KN)
"Kita berharap pemerintah lebih memperhatikan lagi, karena ini bisa menjadi aset daerah yang sangat berharga. Seperti di Magelang yang menjadi juara 1 lomba batik naional. Mereka nantinya akan menjadikan daerahnya menjadi daerah wisata batik yang dikemas bersamaann dengan hasil produksi lainnya, seperti keripik pisang," pungkas Lusiana.

Serda Bunsari (44) yang merupakan Bhabinsa dari TNI, sengaja datang hanya untuk membeli batik tangan lampung ini. Karena menurutnya, batik tanagn seperti ini sangat jarang di Lampung Selatan, dan merupakan produksi rumahan yang sangat kreatif.


"Semoga nantinya usaha yang dilakukan warga sekitar bisa berkembang, danh bisa mengharumkan nama Lampung Selatan karena bisa membuat batik tangan Lampung sendiri,"katanya. (yb)