Jokowi: Pengedar Kita Gebukin Ramai-ramai, Gimana?
KANAL
Cari Berita

Jokowi: Pengedar Kita Gebukin Ramai-ramai, Gimana?

Rabu, 04 Oktober 2017

Foto: Laily Rachev/Biro Pers Setpers
Kaliandanews - Presiden Joko Widodo tampaknya sangat geram dengan maraknya peredaran narkoba di Indonesia. Jokowi pun tak puas jika bandar narkoba hanya dihukum 'normatif'. Dia ingin bandar tersebut langsung ditembak mati saja di tempat.

Ketidak puasan Jokowi tersebut diluapkan langsung di hadapan publik. Bahkan Jokowi menanyakan langsung ke Kabareskrim Komjen Ari Dono dan musisi dari band Slank mengenai hukuman untuk para bandar narkoba.

Berikut beberapa keresahan Jokowi terhadap bandar narkoba seperti dlansir dari detikcom:

1. Jokowi ke Kabareskrim: Pengedar Kita Gebukin Ramai-ramai, Gimana?

Jokowi menanyai langsung Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim) Komjen Ari Dono Sukmanto soal ketegasan yang diperlukan dalam menindak pengedar obat-obatan terlarang.

"Urusan narkoba, urusan penyalahgunaan obat ini, kita harus kejem (kejam, red). Kejamnya kayak apa sih Kabareskrim ngurusin ini?" tanya Jokowi ke Ari dalam acara Pencanangan Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat, di Bumi Perkemahan Wisata Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (3/10/2017).

Ari lantas menerangkan bahwa pihaknya punya langkah preemtif, preventif, dan penindakan tegas. Belum selesai Ari berbicara, Jokowi menyela.

"Itu saya kira rutinitas, yang sekarang mau kita 'kejam' apanya?" kata Jokowi.

Ari menjawab yang akan dibuat semakin kejam adalah aspek penindakan hukum. Jokowi ingin tahu ketegasan Bareskrim itu seperti apa.

"Yang bersalah dan tercukupi unsur pidananya, kita penjarakan," jawab Ari Dono.

Jokowi lantas bertanya, bagaimana bentuk hukuman untuk pemiliknya?

Ari pun langsung menjawab pertanyaan Jokowi. "Semua dipenjara," jawab Ari.

"Nggak perlu digebukin rame-rame?" tanya Jokowi.

Ratusan orang bertepuk tangan sambil tertawa. Ari Dono tak langsung menjawab. Jokowi menyatakan dirinya jengkel terhadap pelaku kejahatan seperti ini. Dia lantas mengulangi pertanyaannya.

"Gimana, Pak? Kita gebukin rame-rame, gimana?" tanya Jokowi.

"Nggak boleh, Pak," jawab Ari.

Menurut Ari, untuk mengatasi hal ini, perlu peran sekolah-sekolah. Generasi muda perlu diajari untuk menghindari obat-obatan terlarang. Ari kemudian dipersilakan kembali ke tempat duduk oleh Jokowi.

Setelah Ari duduk, barulah Jokowi mengungkapkan bahwa dirinya berharap kata-kata yang lebih tegas keluar dari mulut Ari.

"Saya nunggu Pak Kabareskrim bilang, 'Saya injek (injak) semua Pak besok, saya injek yang berkaitan dengan narkoba dan penyalahgunaan obat.' Pak Kabareskrim menguraikannya tenang, tapi seram juga," kata Jokowi.

2. Jokowi dan Bimbim 'Slank' Sepakat Pengedar Obat Terlarang Didor

Setelah berdialog dengan Kepala Bareskrim Irjen Ari Dono Sukmanto, Jokowi melakukan dialog dengan penggebuk drum Slank, Bimbim. Musisi ini ditanya perihal tindakan tegas untuk pengedar obat terlarang.

Jokowi bertanya kepada Bimbim soal perspektif melihat masalah penyalahgunaan obat terlarang, semisal PCC atau Tramadol, yang digunakan secara menyimpang.

"Itu gerbang masuk ke narkoba. Jadi anak-anak kelas VI SD dan SMP belajarnya dari situ. Ini serius banget bahayanya," tutur Bimbim sambil memegangi mikropon dan menatap Jokowi.

Jokowi lantas bertanya, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah itu. Bimbim menjawab pendidikan terhadap anak adalah hal yang bisa mencegah permasalahan penyalahgunaan obat, termasuk penyalahgunaan narkoba.

"Anakku sudah 16 tahun yang paling besar. Ngajarinnya ya, 'Narkoba itu kampungan, norak, hanya orang-orang yang nggak jelas.' Begitu dia ketemu, dia ada penolakan sendiri," tutur Bimbim.

Namun Jokowi tidak puas atas jawaban Bimbim.

"Apa yang harus dilakukan Polri?" tanya Jokowi ke Bimbim.

"Hukuman maksimal. Dor!" jawab Bimbim.

Jokowi tampak puas mendengar jawaban Bimbim. Penonton bertepuk tangan. "Ya sudah. Yang saya tunggu yang (jawaban Bimbim) terakhir tadi," tutur Jokowi sambil tersenyum.

3. Jokowi: Pengedar PCC, Tramadol, Pil Jin Harus Didor Bila Melawan

Jokowi sendiri menegaskan, aparat penegak hukum tegas terhadap pelaku kejahatan peredaran obat-obatan terlarang. Jokowi setuju bila para pengedar obat-obatan ilegal ditembak di tempat. Bila mereka melawan aparat saat ditangkap, pelepasan peluru senjata api adalah langkah yang dibenarkan secara prosedur.

"Ya kalau melawan dan membahayakan, jangan diberi toleransi. Tegas. Itu harus kita sampaikan," kata Jokowi.

Dia menyatakan, penyalahgunaan obat sudah menjadi ancaman yang besar untuk Indonesia. Soalnya Indonesia saat ini sedang menyiapkan sumber daya manusia untuk masa depan. Generasi muda tak boleh dirusak oleh penyalahgunaan obat.

"Betul-betul sebuah ancaman besar, dan saya minta perhatian yang sangat serius kepada seluruh kementerian/lembaga, BPOM, Polri, Kejaksaan, Kemenkes, dan semua yang terkait dengan ini," kata Jokowi.

Obat-obat yang marak adalah PCC, Tramadol, hingga pil jin alias Zenith. Jokowi heran atas sebutan obat terakhir itu.

"Saya dengar ada juga pil jin, bukan pil setan, tapi pil jin. Ada kebiasaan berbahaya, meminum Tramadol dicampur kopi, dan masih banyak lainnya," kata Jokowi. (*)

BERITA LAINNYA