Beredar Bungkus Vaksin Polio Mengandung Babi? ini jawabannya
Kategori Berita

Iklan Halaman Depan

Header Menu

Senin, 07 Maret 2016

Beredar Bungkus Vaksin Polio Mengandung Babi? ini jawabannya

[caption id="attachment_1484" align="aligncenter" width="299"]Bungkus Vaksin Polio babi Bungkus Vaksin Polio Suntik[/caption]

KaliandaNews.com – Menjelang Pekan Imunisasi Nasional pada tanggal 08-15 Maret 2016, Kementerian Kesehatan mendapat kabar tidak sedap, pasalnya beredar bungkus vaksin yang menerangkan bila “Proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi”.

Sontak kabar tersebut lagi-lagi bikin dunia maya gempar. Kementerian Kesehatan RI, dalam rilisnya pada Sabtu (5/3/2016) menyampaikan klarifikasi sebagai berikut:

  1. Bungkus vaksin polio yang beredar di medsos dengan tulisan "pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi" adalah vaksin polio suntik. Sedangkan yang digunakan pada Pekan Imunisasi Nasional 2016 adalah Vaksin Tetes.

  2. PIN Polio 2016 menggunakan vaksin dengan bungkus bertuliskan "Oral Polio Vaccine" produksi Biofarma. Tidak ada tulisan apapun terkait bahan bersumber babi.

  3. Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi mendukung program imunisasi di Indonesia, termasuk PIN Polio 2016 sebagaimana tercantum dalam fatwa MUI Nomer 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi yang ditetapkan pada 23 Januari 2016.

  4. Pemerintah menghimbau kepada masyarakat Indonesia agar membawa anak-anaknya usia 0 sd 59 bulan ke Pos PIN terdekat pada tanggal 8-15 Maret 2016. PIN Polio 2016 bertujuan mencegah anak-anak Indonesia tertular virus Polio. Dengan imunisasi polio masyarakat akan mendapatkan kekebalan yang tinggi sehingga dapat mempertahankan status Indonesia Bebas Polio.


Dikutip dari beberapa sumber, Kebanyakan vaksin menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengandung zat haram karena mengandung enzim babi.  Memang bahan utama sebagian besar vaksin seluruh vaksin yang beredar di dunia saat ini, termasuk vaksin meningitis yang diberikan kepada jemaah haji, menggunakan bahan haram dalam pembuatannya. Di antaranya adalah enzim babi, ginjal kera, ginjal babi dll.

Depkes pernah meminta Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’ (MPKS) – penasihat Depkes tentang kaitan agama dan kesehatan– untuk menyelidiki hal tersebut. Kemudian MPKS mengundang PT. Bio Farma dan Aventis untuk memberi penjelasan tentang proses pembuatan vaksin polio yang mereka lakukan. Dari situ terbukti bahwa, tripsin babi memang digunakan dalam pembuatan vaksin polio. “Begitu juga dengan vaksin meningitis yang diproduksi oleh Glaxo Smith Kline untuk para jamaah haji,” ujar Prof. Jurnalis.

Prof. Jurnalis mengatakan dirinya telah menanyakan alasan penggunaan tripsin babi pada perusahaan-perusahaan pembuat vaksin tersebut. “Kata mereka, kita tidak pernah memikirkan itu. Di mana-mana di dunia ya pakai enzim babi. Kalau mau diganti dengan enzim sapi maka butuh penelitian sekitar lima tahun dengan biaya yang besar juga,” uar dosen Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta ini.

Tapi setidaknya sejak tahun lalu PT. Bio Farma sedang mengusahakan untuk mengganti bahan babi tersebut. Penelitian ini setidaknya memakan waktu selama tiga tahun. Direktur Pemasaran PT. Bio Farma, Sarumuddin mengatakan, untuk sementara bahan tripsin masih tetap digunakan, termasuk untuk vaksin campak ini. Tapi dirinya menyangkal adanya penggunaan janin bayi hasil aborsi dalam pembuatan vaksin di PT. Bio Farma.

Dalam penjelasannya Prof. Jurnalis mengatakan, tripsin babi sebenarnya bukanlah bahan baku vaksin. Dalam proses pembuatan vaksin, tripsin hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein).

Pada hasil akhirnya (vaksin), enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pankreas babi ini tidak terdeteksi lagi. Enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian dan penyaringan. ”Hingga jejaknya pun tidak terlihat lagi,” jelas Prof. Jurnalis. Namun karena sudah tersentuh unsur haram dan najis, status kehalalan vaksin jadi bermasalah.

Kenapa Harus Babi?

Obat-obatan dan kosmetika modern dari Barat kerap menggunakan babi, kenapa? Wakil Ketua LP POM MUI, Dr. Anna Priangani Roswiem mengatakan, karena babi mempunyai susunan DNA yang hampir mirip dengan DNA manusia. ”Susunan DNA babi hampir mirip dengan DNA manusia,” jelas Dr. Anna yang juga dosen Biokimia di Institut Pertanian Bogor ini.

Dalam masalah cangkok katup jantung, misalnya. Menurut Dr. Anna katup jantung babi lebih cocok bila dicangkokkan pada manusia, dibanding sapi atau kambing. Karena susunan DNA yang hampir sama, maka tubuh manusia tidak menganggap katup jantung babi tadi sebagai benda asing.

Perbandingan Struktur Insulin Manusia, Babi, dan Sapi

Insulin Manusia : C256H381N65O76S6 MW=5807,7
Insulin Babi : C257H383N65O77S6 MW=5777,6
(hanya 1 asam amino berbeda)
Insulin Sapi : C254H377N65O75S6 MW=5733,6
(ada 3 asam amino berbeda)

(sumber: Jurnal Halal LP POM MUI)

Jadi kesimpulannya untuk Vaksin Imunisasi yang akan di laksanakan pada 8-15 Maret 2016, menggunakan vaksin tetes dan tentunya tidak mengandung babi dan kehalalannya terjamin.

(Editor: kld)