Cerpen: Cinta Dalam Diam
Kategori Berita

Iklan Halaman Depan

Header Menu

Sabtu, 16 April 2016

Cerpen: Cinta Dalam Diam

cerita pendek cinta dalam diam

Cinta dalam Diam 


Diam

Dalam diam aku memikirkanmu

Dalam diam aku mengagumimu

Dalam diam kucoba menggapaimu

Dalam diam tangisku untukmu

Dalam diam kau lah bahagiaku

Naurel menutup buku harian yang baru dibelinya. Perasaannya amat kacau hingga dia hampir menangis. Dua tahun yang lalu ia membuang semua kenangan yang tertulis di buku hariannya, namun dalam sekejap kenangan itu muncul kembali dan terasa amat sakit.

“Hai Rel, kamu kok sendirian aja di sini?” Ozan meniup telinga Naurel, sebuah kebiasaan yang selalu dilakukan Ozan ketika bersama Naurel.

“Ih Ozan apaan sih, geli tau! Terserah aku dong mau di sini sama siapa, bukan urusan kamu!” Naurel beranjak pergi meninggalkan Ozan yang ternganga melihat sikapnya.

“Naurel dulu bukan gadis yang ketus seperti sekarang.” batin Ozan seraya menatap Naurel yang telah berlalu meninggalkannya.

******

Ozan sangat bersemangat karena hari ini adalah hari pertama di kampus barunya, kampus yang sama dengan Naurel.

“Naurel! Rellll!” Ozan memanggil Naurel yang berjalan cukup jauh di depannya. Naurel semakin mempercepat langkahnya hingga Ozan harus berlari.

“Naurel, kamu kenapa sih? Aku kan baru di kampus ini, temenin kek apa kek.” Ozan menahan tangan Naurel dengan napas terengah-engah.

“Suruh siapa kamu pindah ke sini? Kenapa gak terus aja di London?” Naurel bertanya dengan tatapan sedingin es.

“Lah emang aku salah pindah ke sini? Sikap kamu kenapa berubah gini sih? Salah aku apa Rel?” Ozan menatap Naurel dengan tatapan tajam. Naurel hanya diam dengan tatapan kosong.

“Rel jawab dong jangan diem aja!” Ozan membentak Naurel. Naurel masih terdiam.

“Paling gak enak ngomong sama patung!“  Ozan pergi meninggalkan Naurel yang menangis dalam diamnya.

******

Kau tahu karang di lautan?

Yang kokoh saat terkena ombak?

Yang tak terlihat ketika air laut pasang?

Dan yang terkikis seiring waktu berjalan?

Itu lah aku bagimu

Yang terlihat kokoh walaupun rapuh

Yang tak kau ingat ketika kau di atas

Dan yang kau lupakan seiring waktu berjalan

Naurel diam menatap handphone di samping buku diary nya. Ia merasa bersalah terhadap Ozan. Naurel akhirnya mengirim sebuah pesan singkat kepada Ozan.

Ozan, aku minta maaf atas sikapku akhir-akhir ini.

Tidak berapa lama Ozan membalas pesan singkatnya.

Iya Rel aku juga minta maaf ya. Kita ketemuan di taman kampus yuk, aku tunggu kamu sekarang ya!

Naurel beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju taman kampus.

******

“Hai Rel, akhirnya kamu dateng juga.” Ozan tersenyum melihat kedatangan Naurel.

“Kamu kenapa mau ketemu aku di sini?” Naurel duduk di samping Ozan.

“Gak ada alasan sih, kita kan udah lama gak ngobrol gini, kamu gak suka?”

“Gak masalah kok Zan.”

“Rel, kamu gak nanya kenapa aku pindah dari London ke sini?” Ozan menatap Naurel.

“Itu kan privasi kamu, aku gak mau ikut campur urusan orang.”

“Hahaha kamu belum berubah ya Rel, masih semanis gula.” Ozan menggoda Naurel.

“Zan, maaf ya aku harus pulang sekarang. Boleh kan?”

“Boleh kok, kamu mau aku antar pulang?”

“Gak usah, aku bisa pulang sendiri. Aku duluan ya.” Naurel beranjak meninggalkan Ozan.

“Hati-hati di jalan Naurel.” Ucap Ozan lirih.

******

Sore harinya, Ozan menelepon Naurel tapi tidak diangkat. Berkali-kali ia coba tetap tidak dijawab. Akhirnya Ozan memutuskan pergi ke rumah Naurel.

Ozan bingung karena di jalan kecil menuju rumah Naurel sangat ramai. Ozan pun mempercepat laju motornya. Ozan terkejut ketika ia melihat bendera kuning di depan rumah Naurel, rumah yang dua tahun lalu rutin ia kunjungi setiap minggunya.

“Nak Ozan?” Ayah Naurel menyapa Ozan yang masih terkejut.

“Nak Ozan kapan kembali ke sini? Kok Naurel gak cerita apa-apa?” Ayah Naurel bertanya.

“Baru seminggu ini kok Om, Naurel ada di rumah om?” Ozan tak sabar ingin bertemu dengan Naurel.

“Nak Ozan masuk saja ke dalam.” Ayah Naurel mengajak Ozan masuk ke rumahnya. Ozan masih bertanya-tanya, apa yang terjadi di rumah Naurel.

Ozan melihat seseorang terbaring dengan tertutup kain di tengah ruangan.

“Om, Naurel di mana?” Ozan bertanya kepada Ayah Naurel yang menatap mayat tersebut seraya menahan kesedihannya.

“Naurel ditodong preman sepulang dari kampus. Ia mencoba menelepon polisi, tapi salah satu preman itu menusuk Naurel tepat di jantungnya.”

Ozan tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Bagaikan disambar petir, perasannya kacau, teramat kacau. Ia tak mengira secepat itu Naurel meninggalkannya. Perlahan Ozan mendekati Naurel dan membuka kain yang menutupi wajahnya, seketika itu pula semua terlihat gelap gulita. Ozan pingsan.

******

Seminggu kemudian, Ozan telah berada di kamar Naurel. Ia kini bisa menerima kenyataan walaupun perasannya kian hancur. Ia menemukan sebuah buku diary Naurel yang sedikit usang di lemari kamarnya. Ozan membaca lembar demi lembar.

20 Maret 2007

Ozan. Nama itu yang selalu buat hariku semangat. Dari kecil kami bersama dan sekarang aku baru menyadari bahwa aku mencintainya.

Ozan tercengang membaca tulisan Naurel di diary itu.

04 April 2007

Seiring waktu berjalan, perasaanku ke Ozan semakin bertambah. Aku senang berada di dekatnya, aku senang bercanda bersamanya, dan aku senang melewati hari-hariku dengannya. Tapi aku tak ingin merusak persahabatan yang telah lama kami jalin. Biarlah semua ini kurasakan dalam diam.

27 April 2007

Baiklah, sekarang kau meninggalkanku begitu saja? Kau pergi tanpa kabar? Oke, akan kukubur semua kenangan kita, akan kucoba untuk melupakan semua tentangmu, bye Ozan!

Ozan membaca lembaran terakhir buku diary itu. Ia kaget, ternyata itulah yang membuat sikap Naurel berubah. Dua tahun yang lalu, Ozan mendadak harus ke London karena kakeknya meninggal kemudian ia melanjutkan sekolah di sana, ia ingin menghubungi Naurel tapi ia tidak memiliki kontaknya.

Ozan mengambil pulpen dan mulai menulis di buku diary Naurel.

30 Maret 2009

Naurel

Seorang perempuan yang selalu ceria

Seorang peri yang membius dengan senyumannya

Seseorang yang selalu menjadi alasanku tertawa

Seseorang yang membuat aku kembali padanya

Naurel

Engkau dahulu gadis kecilku

Engkau yang menjadi pelita hatiku

Maafkan aku telah mengecewakanmu

Tetaplah mencintaiku dalam diammu
(Penulis: Sabrina Khairunnisa | SMAN 1 Kalianda kelas XII)