Warga Agom Duga Mantan Kadesnya di JEBAK! Ini Cerita Istrinya
-->
Kategori Berita
POLLING PILKADA LAMPUNG SELATAN 2020
NANANG ERMANTO
HIPNI
TONY EKA CHANDRA
BELUM ADA PILIH

Header Menu

Senin, 23 Januari 2017

Warga Agom Duga Mantan Kadesnya di JEBAK! Ini Cerita Istrinya


Foto: Ist
Kaliandanews, Kalianda – Terkait dugaan pemerasaan yang dilakukan oleh mantan kades desa Agom kecamatan Kalianda Muchsin Syukur (39) terhadap Widodo (41) warga Desa Sidodadi, Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan beberapa waktu lalu, Istri mantan Kades Agom Ida Riana (30) menilai hal itu terkesan janggal dan seperti direncanakan untuk menjebak suaminya.

Diberitakan sebelumnya Muchsin Syukur meminta uang Jasa Administrasi pencairan tanah proyek jalan tol, yang telah disepakati oleh Widodo dan aparat Desa Agom. Saat dimintai berdasarkan kesepakatan,  Widodo hanya mampu memberikan uang sebesar Rp. 2 jt dan perhiasan senilai Rp. 8 jt. Diketahui luas tanah milik Widodo seluas 12000 Meter persegi (1,2 Hkt) dan dihargai kurang lebih 80 ribu permeter belum termasuk tanam tumbuh, dan jika ditotalkan jumlah yang didapatkan dari Widodo dari hasil pencairan tersebut, kurang lebih 1,5M.

Sementara keterangan yang diberikan Ria kepada kaliandanews, dirinya menilai ada sesuatu yang aneh dari dari kasus yang menimpa suaminya tersebut. Menurut Ria, sebelumnya Widodo sudah sepakat dengan aparat desa prihal uang jasa tersebut.

“setelah pencairan suami saya beberapa kali nelfon dia, tapi tidak bisa dihubungi kayak sengaja di matiin hpnya, menghindar terus. Dari situ suami saya udah gak ngehubungin lagi dan dia bilang, yaudah mak kalo memang dia gak ada niat ngasih biarin aja saya juga udah ikhlas” Ujar Ria.

Ria menjelaskan, Setelah beberapa waktu tidak pernah dihubungi oleh suaminya, tiba-tiba pada hari Rabu (18/1) Widodo menelfon suaminya dan mengajak bertemu di rumah pak Faisol (Saksi saat Penangkapan) untuk membahas perihal pembayaran tersebut. 

“Kata suami saya dia dikasih Cuma 500 ribu, Disitu suami saya merasa tersinggung karna dia menggap itu pelecehan, makanya duit itu tidak diambil, suami saya lebih memilih untuk tidak mengambil uang itu kemudian dia pulang ke rumah” Kata Ria.

Lebih lanjut Ria menjelaskan, Setelah pertemuan itu, Sorenya Widodo menelfon suaminya kembali. Widodo melakukan tawar menawar dengan suaminya sore itu. “Suami saya bilang kenapa kayak orang utangan tawar menawar, kalo bapak gak mau ngasih tidak apa kami ikhlas”. Ungkap Ria menirukan perbincangan suaminya.

Kemudian esok tepatnya Kamis (19/1), Widodo menelfon suaminya kembali untuk menyanggupi pembayaran sebesar 8 juta rupiah, dan mengajak untuk bertemu di Rumah Makan Beringin Jaya, Kecamatan Sidomulyo jam satu siang.

“Suami saya izin sama saya mau ketemuan siang ini jam 1 siang kata dia, katanya Widodo ngajak ketemuan di rumah makan sekalian saya juga mau minta maaf sama keluarga nya takut ada omongan yang gak enak kmren. Saya sebagai istri heran kok gak dirumah aja ketemuannya, tapi kata suami saya kalo keluarganya widodo mau ketemu juga.  Setelah Dua jam kemudian suami saya sms saya kalo widodo belum dateng udah dua jam nunggu ” Tuturnya.

“15 menit kemudian suami saya ngabarin lagi, katanya widodo mau ngasih kalung sama gelang emas, dia memang ngmong sebelumnya karna gak punya uang dia mau pinjem emas sama sodaranya buat bayar, tapi suami saya curiga kok malah emas betulan yang dikasih, suami saya kira bentuk uang. logikanya masa uang sebesar 1,5 M hasil pencairan ganti Rugi tol katanya sudah abis baru sebulan, sampe dia mau pinjem emas sodaranya.” Tambah Ria.

Ria menuturkan, setelah beberapa saat kemudian suaminya menelfon, dan memberitahu bahwa dia ditangkap oleh pihak kepolisian karena melakukan pemerasan kepada widodo.

“Selang beberapa saat, suami saya nelfon kalo dia udah ditangkep sama polisi, uang itu katanya belum sempet di pegang,  dan belum tau itu isinya apa belum dibuka sama suami saya. Polisi sudah dateng nangkep dia. Jadi kami juga merasa curiga kok kayaknya ada yang aneh dari kasus ini seperti sudah tersusun rapih dan terkesan di rekayasa.

Sementara penuturan pihak tim 9 yang dibentuk oleh aparat desa dan disetujui oleh pihak perusahaan Tol, mengatakan, pihak tim 9 mengklaim bahwa mereka dan kadeslah yang mengurus proses ganti rugi tersebut. Mulai dari pembersihan lahan, pengukuran lokasi hingga pengumpulan berkas selama berbulan bulan.

“Semua yang ngurus itu kami mas, termasuk dana atau ongkos yang lainnya, lokasinya ditengah hutan semak belukar yang kami urus, semua biaya dari kades yang ngasih, banyak dari warga sini yang kena gusuran juga malah mereka terima kasih karena udah dibantu dan ada yang nyumbang sampai 100 juta untuk desa hasil dari gusuran. Sementara pak Widodo dapet 1,5M dan kades kami dikasih 500 rbu? Kira-kira gimana mas rasanya orang udah capek-capek ngebantu tapi dizolimin”. Tegas Zainal Abidin salah seorang anggota Tim 9.

Hal senada di ucapkan oleh seorang warga desa setempat, yang juga lahannya terkena gusuran.

"Saya sendiri memang kena, disini memang tidak ada paksaan untuk memberi kepala desa, bahkan kepala desa berkorban menggunakan uang pribadi untuk panitia pembebasan lahan tol." Terang Yakub salah seorang warga setempat yang juga tanahnya terkena gusuran tol.

Dia juga menjamin, mantan kepala desanya itu bukan tipikal orang yang dituduhkan. "masyarakat tidak ada yang dimintai uang sepeserpun untuk pembebasan lahan. Ini tidak ada rekayasa, itu memang benar." Ujar Yakub.