Enam Ide Program untuk Memanfaatkan Dana Desa Agar Tidak Mubazir
-->
Kategori Berita
POLLING PILKADA LAMPUNG SELATAN 2020
NANANG ERMANTO
HIPNI
TONY EKA CHANDRA
BELUM ADA PILIH

Header Menu

Rabu, 19 April 2017

Enam Ide Program untuk Memanfaatkan Dana Desa Agar Tidak Mubazir

Ilustrasi Warung Desa Modern
Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa dan Desa Adat yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaran pemerintahan, pembangunan, serta pemberdayaan masyarakat, dan kemasyarakatan.

Dana desa dengan jumlah yang fantastis memang fenomena luar biasa. Akan tetapi, seberapa mampu kepala desa beserta jajarannya memanfaatkan gelontoran dana itu untuk program-program yang tepat sasaran? Semua akan sangat tergantung kepada kepala desa masing-masing.
Jika program tidak jelas dan secara teknis tidak diawasi dengan baik, dana bisa saja terbuang tak produktif, sehingga itikad baik pemerintah pusat yang hendak memeratakan kemajuan di seluruh wilayah, hanya ibarat memukul angin.

Tulisan ini merupakan gagasan yang mungkin akan menambah ide-ide yang sudah ada. Tentu saja, bukan untuk “memaksa” ide ini diambil dan diwujudkan. Namun setidaknya, dapat menjadi gambaran bagi aparat desa yang sedang kebingungan mencari ide baru.

Untuk memetakan permasalahan di desa, setidaknya, ada 4 masalah utama yang rata-rata ada di pedesaan, yaitu:
1. Minim sarana untuk mengakses pengetahuan,
2. Minimnya jumlah uang berputar, sehingga perekonomian masyarakat acapkali berjalan di tempat,
3. Minimnya SDM yang memiliki skill,
4. Sudah terpapar budaya instan dan konsumtif, sehingga cenderung tidak tertarik lagi dengan kegiatan ekonomi yang membutuhkan proses panjang.

Beberapa program yang bisa dipertimbangkan untuk mengurangi masalah-masalah di atas adalah:

1.Mendirikan perpustakaan desa.
Kemajuan ilmu di berbagai bidang semestinya bisa mengentaskan kemiskinan. Namun ketika ilmu itu tidak sampai kepada masyarakat, maka ia hanya mempengaruhi segelintir orang saja, dan lagi-lagi kesenjangan terjadi.

Perpustakaan desa adalah salah satu sarana yang berharga dan strategis bagi masyarakat untuk meningkatkan wawasan keilmuan dan juga wawasan berpikir. Oleh karena itu, program ini hendaknya tidak berjalan setengah-setengah. Hadirkanlah perpustakaan yang lengkap di desa, yang buku-bukunya terpilih serta bermutu, meliputi berbagai bidang dan rentang usia. Hadirkan buku-buku pengolahan hasil alam, pertanian, keterampilan, buku anak-anak dan novel berkualitas yang bisa menginspirasi remaja untuk menjadi manusia yang bermanfaat, serta buku-buku enterpreneurship dan pengembangan diri sehingga para pemuda memiliki pengetahuan tentang karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan.

Pilihlah seseorang yang memang menyukai buku dan dunia perpustakaan, sebagai pengelola tetap. Jangan lupa alokasikan honor tetap bulanan kepadanya. Tanpa kehadiran pengelola tetap, perpustakaan kemungkinan akan mati suri. Lagi-lagi, kita akan melakukan kesia-siaan. Tak lupa, kirimlah pengelola perpustakaan untuk mengikuti pelatihan untuk menambah ilmu dan wawasannya, sehingga jika dimungkinkan bahkan bisa mengelola perpustakaan dengan manajemen digital.

2. Mendirikan pusat pendidikan dan pelatihan keterampilan informal.
Banyak potensi desa yang belum tergali dengan baik. Hal itu banyak disebabkan karena minimnya wawasan masyarakat tentang cara mengembangkan, meningkatkan kualitas produk, dan memasarkan produknya dengan berbagai sarana dan media, termasuk melalui penjualan online.

Oleh karena itu, pusat pendidikan sangat penting dalam hal ini. Pusat pendidikan ini secara rutin mengundang pakar-pakar di bidangnya untuk berbagi ilmu kepada masyarakat di desa. Selain itu, pusat pendidikan informal ini juga bisa menjadi tempat bagi remaja dan pemuda untuk memperoleh wawasan tentang perilaku yang baik dan sehat, serta menjadi wadah untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif.

Dan satu catatan yang penting, pendirian pusat pendidikan semacam ini tidaklah berarti kepala desa harus mendirikan gedung baru, sehingga menghabiskan dana hanya di pembuatan gedung. Desa bisa memanfaatkan aula desanya atau terintegrasi dengan perpustakaan desanya. Bukankah lebih baik dana teralokasi kepada penyediaan isi dibandingkan cangkang.

3. Mendirikan laboratorium enterpreneurship bagi para pemuda.
Wawasan dan skill enterpreneurship adalah salah satu kunci untuk mengentaskan pengangguran. Fokusnya harus kepada bagaimana menjadi kreatif dalam memanfaatkan potensi desa.
Dengan cara itu, masyarakat bisa menghasilkan produk khas yang bahan bakunya berasal dari desa tersebut sehingga menambah pendapatan warga lokal, namun hasilnya didistribusikan ke luar desa atau kecamatannya.

Cara ini, secara tidak langsung akan membuat jumlah uang berputar di desa menjadi bertambah. Saat ini ada kecenderungan, jenis usaha masyarakat desa hanya berkisar di usaha warungan. Barang-barangnya mereka beli ke pasar di kota, lalu dijual di desa.

 Jika jumlah barang dari kota jauh lebih banyak daripada barang-barang lokal yang dijual di kota, maka lagi-lagi, sebenarnya uang orang desalah yang masuk ke kota. Hal itu memicu pembengkakan angka pengangguran. Dan imbas dari besarnya jumlah penganggur biasanya memancing munculnya perilaku-perilaku kriminal bahkan prostitusi.


4. Membuat sumur artesis di sekitar sawah tadah hujan sehingga kegiatan pertanian produktif sepanjang tahun.
Banyak desa di Indonesia masih belum memiliki irigasi, sehingga kegiatan pertanian hanya bergantung kepada hujan. Panen padi satu kali dan palawija satu kali. Tentu hasil seperti itu tidaklah mencukupi. Karena itulah, kadang akan kita dapati, banyak petani dari desa akan “menyerbu” kota saat musim kemarau tiba.

Mereka memilih kerja serabutan sebagai kuli bangunan atau pekerjaan lain yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan pertanian. Jika pembangunan irigasi mungkin butuh dana terlalu besar, sumur artesis bisa menjadi alternatif yang lebih murah. Mudah-mudahan dengan cara itu, para petani bisa tetap bercocok tanam meski di musim kemarau.


5. Menyediakan pinjaman jangka pendek tak berbunga kepada petani.
Banyak petani kecil terjerat hutang kepada para rentenir untuk memodali usaha pertaniannya. Adakalanya, bahkan bantuan modal dari pemerintah tanpa bunga berakhir dengan tetap berbunga karena oknum.

Dana desa, jika memungkinkan bisa membantu masalah tersebut. Catatan pentingnya: beri para petani pendidikan untuk mengelola pertaniannya dengan cara yang lebih baik lewat pusat pendidikan, dan beri juga mereka bekal pengetahuan tentang cara mengelola uangnya. Hal itu akan mengurangi tingkat kegagalan petani. Jika produksi pertaniannya berhasil, mereka akan bisa melunasi pinjamannya. Demikian lima ide dari saya. Mungkin menjadi tambahan inspirasi bagi mereka yang terlibat dalam program ini.

6. Mendirikan warung "Minimarket" desa modern.
Tidak dipungkiri pertumbuhan minimarket modern sudah tidak dapat dibendung lagi, namun mayoritas minimarket tersebut di kelola oleh pemain besar (swasta), namun hingga saat ini peluang pasar mendirikan minimarket sangat lah besar. Peluang ini lah yang harus dimanfaatkan desa dengan mendirikan warung "Minimarket" desa modern.

Dengan berdirinya warung desa modern melalui dana Bumdes, tentu akan sangat bermanfaat tinggi, selain mengurangi pengangguran, keuntungannya pun dapat dimanfaatkan desa untuk membangun sehingga terbentuk kemandirian desa. Dari pada "membuang" dana desa untuk hal-hal yang dinilai sulit mendongkrak kesejahteraan warga desa, warung desa menjadi pilihan terbaik karena perputaran uangnya akan sangat tinggi.

Namun sistem pengelolaannya jangan setengah-setengah, minimal menyamai manajemen minimarket swasta. (red | Dari berbagai sumber)