Ngeri!! Isu Santet Picu Carok Massal di Desa Ketapang, 3 Tewas
-->
Kategori Berita
POLLING PILKADA LAMPUNG SELATAN 2020
NANANG ERMANTO
HIPNI
TONY EKA CHANDRA
BELUM ADA PILIH

Header Menu

Minggu, 09 April 2017

Ngeri!! Isu Santet Picu Carok Massal di Desa Ketapang, 3 Tewas

Kaliandanews.com - Carok massal kembali lagi, sedikitnya tiga orang tewas dan dua lainnya luka-luka dalam carok (perkelahian dengan menggunakan senjata celurit) massal di Desa Ketapang, Kabupaten Sampang, Jawa timur, Sabtu (8/4) sore kemarin sekitar pukul 15.30 WIB.
Ilustrasi: net
Malam harinya, Polres Sampang menerjunkan 80 personel ke lokasi perkelahian untuk mengantisipasi carok susulan. "Ini kami lakukan untuk mencegah terjadinya carok massal susulan, karena berdasarkan informasi intelijen, para pihak yang terlibat tidak terima, dan berencana melakukan pembalasan," kata Kapolres Sampang AKBP Tofik Sukendar di Sampang, Pulau Madura, Sabtu malam.

Tofik mengatakan, pihaknya masih mendalami secara pasti penyebab carok massal yang melibatkan lima orang itu dan tiga di antaranya tewas di tempat kejadian. Namun, menurut kabar yang berkembang di masyarakat penyebab carok karena isu santet.

Ketiga korban tewas masing-masing bernama Saliman (45), Mustofa (55), dan Sitina (57), sedangkan dua lainnya mengalami luka, yakni Mohammad Habibi dan Abdur Rahman dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Sampang, Pulau Madura.

"Kabarnya soal santet. Tapi kepastiannya masih kami selidiki lebih lanjut," kata Kapolsek Ketapang AKP Aries Dwiyanto, seperti diberitakan Antara.

Sejumlah barang bukti disita petugas, antara lain sebilah celurit, sarung pengaman celurit 3 buah, pakaian korban, dan potongan tubuh korban tewas di lokasi carok massal itu.

Kasus carok massal di Kabupaten Sampang merupakan kali kedua di Pulau Madura. Kasus serupa terjadi di Desa Bujur Tengah, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan pada 2006 karena sengketa tanah. Kala itu tujuh orang tewas, dan sembilan lainnya luka-luka.

Selain menerjunkan personel gabungan, Tofik menambahkan, Polres juga melakukan koordinasi dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama di wilayah itu, guna meredam situasi yang kian memanas. (Red | Antara | Rimanews)