Kangen Ibu, 3 Bocah Nekat Gowes Sepeda dari Palembang ke Tangerang
-->
Kategori Berita
POLLING PILKADA LAMPUNG SELATAN 2020
NANANG ERMANTO
HIPNI
TONY EKA CHANDRA
BELUM ADA PILIH

Header Menu

Sabtu, 01 Juli 2017

Kangen Ibu, 3 Bocah Nekat Gowes Sepeda dari Palembang ke Tangerang

Kangen Ibu, 3 Bocah Nekat Gowes Sepeda dari Palembang ke Tangerang
Foto: Muhammad Iqbal
Dalam suasana arus balik lebaran, ada kisah haru dimana ada tiga bocah yakni, Okta (15), Rizal (13), dan Aslam (10), nekat gowes dari Palembang untuk pulang ke Ciledug, Tangerang, Banten demi bertemu dengan ibunya untuk berlebaran. Ketiganya pertama kali ditemukan oleh petugas ASDP Indonesia Ferry di buffer zone penjualan tiket di Begadang 4, perbatasan Bandar Lampunh - Lampung Selatan.

Dilansir dari detik.com, Rizki Dwianda, Vice President Services and Assurance ASDP Indonesia Ferry, mengatakan awalnya bocah yang paling kecil, Aslam, datang ke buffer zone untuk membeli tiket dengan membawa uang Rp 20 ribu pada Kamis (29/6/2017) sekitar pukul 15.00 WIB. Ia meminta agar diseberangkan ke Merak dengan tujuan Jakarta bersama kedua kakaknya yang sudah kelelahan dan berbadan lusuh.

Ketika ditanya oleh petugas loket, keduanya mengaku naik sepeda dari Palembang untuk pulang ke Ciledug dan berlebaran dengan keluarga. Awalnya petugas tidak percaya. Namun, ketika diperlihatkan sepeda dan barang bawaan kantong plastik berisi baju, petugas kemudian percaya. Apalagi ada seorang perempuan yang sempat memberikan uang Rp 20 ribu yang memberikan penjelasan.

"Sudah lusuh banjir keringat duduk, yang paling kecil datang ke loket minta mau beli tiket," kata Rizki, Jumat (30/6).

Karena merasa kasihan, Rizki kemudian menemui ketiga bocah tersebut dan sempat mengajak makan di Begadang 4. Berdasarkan keterangan, ketiganya mengaku menggowes sepeda dari Terminal Rajabasa ke Begadang 4, Lampung Selatan. Sebelumnya, dengan modal Rp 140 ribu, mereka naik bus dari Palembang dan sempat menumpang truk. Setelah diajak makan dan berbincang, ketiganya kemudian dibawa ke Bakauheni menggunakan mobil untuk diseberangkan ke Merak.

"Sudah langsung kita antar. Begitu di Bakauheni, naik kapal Jatra 2," ucapnya.

Selama di atas kapal, menurut Rizki, ketiga bocah tersebut ditempatkan di VIP room anjungan kapal. Namun, karena baru pertama kali, Rizal dan Aslam malah berkeliling di sudut-sudut kapal karena senang.

"Di kapal malah main. Kalau kakaknya, si Okta itu, dia sudah sering nyeberang. Bapaknya sopir truk, makanya paham Palembang-Jakarta karena sudah sering," ujarnya.

Begitu sampai ke Pelabuhan Merak, keduanya langsung diantar ke rumah keluarga di Ciledug, Tangerang oleh petugas ASDP Merak.

Pulang-Pergi

Ketiga bocah tersebut sebenarnya berdomisili di Ciledug, Tangerang, mereka tinggal bersama orang tuanya. Bagaimana mereka sampai ke Palembang? Berikut kisahnya menurut penuturan mereka:

Okta, Rizal, dan Aslam tak kuasa menahan rindu untuk bertemu dengan sang nenek di Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel). Sang nenek juga membekali ketiga cucu laki-lakinya itu 2 sepeda butut dan Rp 140 ribu untuk kembali ke Jakarta untuk bertemu dengan ibu mereka.

Rencana menjenguk nenek ini disusun ketiganya sebelum Ramadan. Tepat seminggu sebelum bulan puasa, ketiganya berangkat dari rumah sang ibu di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menuju Desa Indralaya, Ogan Ilir, Sumsel. Rencana perjalanan ketiganya sangat simpel, dengan menumpang truk-truk jalur Trans Sumatera. Mereka menyebut istilah menumpang itu sebagai 'BM-BM-an'.

Okta, yang merupakan anak sulung, menyebut tidaklah mudah menjalankan rencananya. Tidak semua truk hendak memberi mereka tumpangan sepanjang jalan. Apalagi mereka tidak menemukan truk yang langsung menuju Ogan Ilir. Ada truk yang memberikan tumpangan, ada juga yang berlalu begitu saja di jalan. Hampir lima hari lamanya mereka hidup di jalan.

"Hari Jumat sebelum bulan puasa itu, dari Jakarta ke Palembang naik truk. Sampai Palembang 4 hari 4 malam, hampir 5 hari," kata Okta setelah tiba di Pelabuhan Merak, Kamis (29/6/2017) malam.

Hanya dengan membawa beberapa helai pakaian, mereka akhirnya tiba di rumah sang nenek. Kondisi di Indralaya juga cukup memprihatinkan bagi ketiganya. Sang nenek jatuh sakit. Penyakit magnya kambuh sehingga mereka membantu mencarikan uang untuk membeli obat dengan berjualan kantong plastik di pasar-pasar terdekat.

"Di rumah nenek, kalau saya kerjanya jual plastik item (kantong kresek) di pasar. Buat tambah-tambah makan. Nenek juga sakit mag, saya beliin obat," tutur Aslam.

Hampir sebulan lamanya di Indralaya, mereka akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta. Okta, Rizal, dan Aslam rindu bertemu dengan sang ibunda. Rencana kepulangan ketiganya diubah. Mereka sepakat pulang dengan menggowes sepeda bersama-sama menuju Jakarta. Sebelum pulang, sang nenek memberikan restu dan membekali cucunya itu 2 sepeda butut dan uang Rp 140 ribu.

"Nggak (dilarang), udah diomongin, 'Kamu kalau mau naik sepeda, naik sepeda aja, asal jangan badung'," kata Aslam menirukan pesan neneknya.

Rute ketiganya adalah menggowes sepeda dari Indralaya menuju Kota Palembang untuk mencari bus. Saat tiba di Palembang, mereka mencoba melakukan tawar-menawar harga dengan bus jurusan Rajabasa. Akhirnya mereka bisa menumpang bus dengan ongkos seadanya ke Terminal Rajabasa, Lampung.

"Kan dikasih nenek 140 ribu, kita jalan ke Palembang, busnya pada kagak mau kita naikin. Akhirnya ada bus yang mau, sepedanya juga dinaikin ke bus," ujar Okta.

Sesampai di Rajabasa, mereka melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni dan kemudian akhirnya bertemu dengan seorang petugas ASDP bernama Rizky.


"Dikasih uang juga sama temennya Bapak Rizky itu, dikasih sejuta. Ini masih ada uangnya," kata Rizal.

(Red)