Festival Kalianda 2018 untuk Siapa, Penguasa atau Pemirsa?
-->
Kategori Berita
POLLING PILKADA LAMPUNG SELATAN 2020
NANANG ERMANTO
HIPNI
TONY EKA CHANDRA
BELUM ADA PILIH

Header Menu

Minggu, 29 April 2018

Festival Kalianda 2018 untuk Siapa, Penguasa atau Pemirsa?

Foto: Istimewa
Perhelatan akbar Festival Kalianda, akan segera dimulai pada Tanggal 2-5 Mei 2018 mendatang. Akan tetapi, nampaknya sebelum Festival tersebut terselengara, beberapa sorotan muncul dari berbagai pihak, mulai dari anggota DPRD, masyarakat bahkan Bupati Lampung Selatan.

Pesta rakyat yang di gelar satu tahun sekali itu, kabarnya akan menampilkan berbagai macam kegiatan. Mulai dari Lomba Selfi, Wisata Desa, Solo Song Nusantara, Tari Kreasi Daerah Nusantara, Pemilihan Muli Mekhanai, Kejuaraan Fotografi, serta akan menampilkan Carnaval Budaya, Pameran Kearifan Lokal, Ekowisata, Forum Group Discussion (FGD) bahkan digaungkan bakal menorehkan rekor MURI dengan dihadiri oleh 15 kedutaan besar dari berbagai macam negara.

Akan tetapi, sorotan itu muncul bukanlah terkait jumlah kegiatan maupun acara yang akan digelar. Melainkan, ada beberapa hal yang disoroti mulai dari proses Sosialisasi dan Promosi hingga Tender Kegiatan Festival Kalianda 2018 yang menelan anggaran miliyaran rupiah.

Foto: Salah satu banner yang terpasang disamping pintu masuk lapangan korpri
“Kades Pulau Sebesi Belum Tahu”

Jika dilihat dari lembaran Agenda Kegiatan Festival Kalianda 2018 yang didapat kaliandanews dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan, ajang yang seharusnya disosialisasikan sejak 15 April - 02 Mei itu, baik itu melalui Ekspose media berupa Iklan, Rillis Press Konfren, Pemasangan Sepanduk, Baliho dan pemasangan Umbul-Umbul oleh Masyarakat, terkesan tidak dilakukan secara maksimal.

Bagaimana tidak, berdasarkan yang terlihat dilapangan, pemasangan banner hanya berukuran 3x1 M saja dan lokasi pemasangan terkesan asal-asalan serta kurang tersebar secara merata sampai ke plosok desa. Tentu dengan hal Itu akan berdampak kepada masyarakat, terlebih masyarakat yang tinggal jauh dari perkotaan, tak pelak masih banyak masyarakat yang bertanya-tanya terutama yang berada di desa-desa tidak mengetahui apa itu ajang Festival Kalianda 2018, dan rangkaian acara apa yang akan ditampilkan.

Seperti halnya Kepala Desa (Kades) Tejang Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa Umar Yuni, yang desanya menjadi salah satu lokasi terselenggaranya Festival Kalianda 2018. Ia mengaku sejauh ini pihaknya belum mengetahui pasti kapan dan apa rencana yang akan dilakukan terkait acara tersebut.

Ia juga mengaku belum pernah dihubungi oleh pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam hal kegiatan ini, dan dirinya baru mengetahui saat di undang rapat pemantapan Festival Kalianda 2018 di Aula Rajabasa pada Jumat (27/04/18) kemarin. “Tiga hari ini, kami baru mengetahui akan ada Festival Kalianda, sehingga sampai saat ini kami belum jelas dan fixnya,” Paparnya.

Selanjutnya dia menambahkan, sampai detik ini di Desa yang dipimpinnya itu, belum meimiliki persiapan yang jelas, maupun sapanduk yang terpasang, untuk itu pihaknya kebingungan dimana akan berkordinasi, dengan siapa dan apa yang akan dipersiapkan. “Khususnya orang-orang yang terlibat belum jelas, dan kami belum mengetahui sepenuhnya seperti apa kegiatan ini khususnya di Desa Pulau Sebesi, yang menjadi salah satu tempat kegiatan,” Tandasnya saat diwawancarai usai mengikuti rapat pemantapan.

Foto: Bupati Zainudin saat diwawancara usai Sholat Maghrib di Bani Hasan Rabu (25/04/18), malam

“Bupati Ancam Tak Hadir saat Pembukaan Festival Kalianda 2018”

Tak kalah lebih mencengangkan, orang Nomor Satu di Bumi Ragom Mufakat yakni Zainudin Hasan, sempat melontarkan kritikan pedas terkait permasalahan itu, ia mengancam tidak akan menghadiri pembukaan Festival Kalianda 2018 jika acara tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan, serta Ia menilai tahun ini gaung Festival Kalianda tidak terdengar dan terkesan kurang sosialisasi. "Udah saya tegur kemarin, kalau tidak baik, tidak beres, tidak serius, saya tidak akan ikut membuka acara tersebut. Silahkan saja jalan sendiri, saya punya standar," Jelas adik kandung Zulkifli Hasan itu.

Sebab menurutnya, Event Akbar sekelas Festival Kalianda haruslah di sosialisasikan mulai sejak jauh-jauh hari dan melibatkan banyak pihak, agar dapat terselenggara dengan baik dan matang. "Mestinya tiga bulan sebelum mulai itu sudah digaungkan gunakan media masa, gunakan seluruh komponen yang bisa memberikan informasi kepada masyarakat. Kemudian dengan media tv, coba digunakan, justru kalo kita mau besar itu gunakan media komunikasi, bisa tv, media cetak, bisa media online, ini rapat terus tapi belum terarah," ungkapnya.

Apalagi tambahnya, tahun ini Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menggelontorkan anggaran yang cukup lumayar besar yakni, sebesar 1,3 milyar rupiah, khusus untuk perhelatan Festival Kalianda 2018. "Anggarannya cukup lumayan 1,3 milyar, kalo gak bisa mengelola 1,3 m gak mampu ya repot saya. Itulah saya suka kalo kadis gak sesuai harapan, 3 bulan bisa kita ganti, maksimal 6 bulan," Tegasnya saat di wawancarai kaliandanews seusai sholat Mahgrib di Bani Hasan, Rabu (25/04/18), malam.

Foto: Beberapa disain yang dibuat oleh Office PT. GF sebelum tender di gelar (ist)

“Tender Festival Kalianda 2018 di Sorot Anggota DPRD Lampung Selatan”

Disisi lain, Tender Belanja Jasa Pihak Ketiga pelaksanaan Festival Kalianda 2018 juga digelar dalam kurun waktu yang sangat dekat dengan tanggal pelaksanaan. Pantauan kaliandanews di situs LPSE Lampung Selatan, Disparbud Lamsel menggelar dua paket lelang secara bersamaan dan kedua paket tersebut digelar mulai tanggal 13 April sampai dengan akhir penandatanganan kontrak tanggal 26 April 2018. Artinya, penandatangan kontrak tersebut hanya berselang Lima hari sebelum pembukaan Festival Kalianda dimulai.

Dari hasil Tender yang bernilai Rp 727.275.000,00 tersebut, CV. Restu Ayu keluar sebagai pemenang dengan menyingkirkan 7 Prusahaan yang mendaftar yakni, Eshal Mitra Media, PT. Megatama Citra, PT. Weharima Ristuina, PT. Solindo Duta Convex, PT, Pesona Karya Persada, Fajar Mas dan CV. Punama Jaya. Kendati demikian, salah satu EO terbesar yang ada dilampung yakni PT. GF nampaknya juga turut serta ambil bagian dalam acara ini, hal itu terlihat dari beberapa disain iklan ajakan serta video pendek tentang Festival Kalianda yang dibuat oleh Offcial mereka.

Padahal, didalam proses tender, PT. GF tidak terdaftar sebagai peserta lelang. Terlebih pada saat rapat pemantapan, beberapa personil PT. GF termasuk Direktur Utamanya terlihat mengikuti rapat dan seusai rapat, pihak PT. GF juga masih melakukan pemaparan tambahan dengan membentuk lingkaran bersama instansi terkait. Sebaliknya, CV. Restu Ayu justru yang menjadi pemenang tender lebih dahulu meninggalkan ruang rapat setelah rapat selesai dan tidak ikut melakukan pemaparan tambahan bersama dinas terkait. Jumat (27/04/18).

Menanggapi hal tersebut, Wakil Rakyat dari Fraksi partai Gerindra Syaiful Anwar juga angkat bicara. Menurutnya, kemungkinan pekerjaan tersebut disubkan untuk beberapa item yang tidak bisa ditangani oleh pemenang tender atau mungkin PT. GF tersebut hanya sebagai Sponsorship saja. “Kemungkinannya yang pertama CV. Restu Ayu itu menang dan kemudian dia menggandeng PT.GF sebagai konsorsium, atau sebagai subcon, kemungkingan keduanya dia menang tapi ada sedikit kekurangan dalam perusahaannya lalu dijual dan atau yang ketiga CV. Restu Ayu di buat hanya sebagai tameng saja,” Ungkap Saiful.

Saiful menambahkan, jika tender ini terdapat konspirasi tentu sangat disayangkan. Namun dirinya tak mau seketika mengambil kesimpulan. Menurutnya, ia mengenal baik CV. Restu Ayu, untuk itu dia tidak yakin apabila perusahaan tersebut sengaja berkonspirasi sebagai tameng. “Saya tahu betul CV. Restu Ayu, rasanya tidak mungkin jika dia memiliki ide berkonspirasi dengan dinas terkait, karena setau saya CV. Restu ayu itu murni adalah pembisnis, dia bukan kontraktor, bukan politisi, dia bukan organisasi. Tapi kalau dia dimanfaat kan oleh oknum-oknum dinas terkait itu mungkin saja bisa terjadi, jadi terkesan ada unsur Monopolinya. Namun kita tidak boleh juga mengambil kesimpulan, itu perlu pendalaman,” Jelas Saiful saat di wawancarai kaliandanews, Sabtu (28/04/2018) malam.

Sementara itu, ketika kaliandanews mencoba melakukan konfirmasi terkait permasalahan tersebut dengan Kadis Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yuda Sukmarina. Ia enggan berkomentar, dirinya memilih diam dan sesekali tersenyum kepada wartawan. Namun pertanyaan itu justru dijawab oleh salah satu stafnya, “Nanti akan diberikan rilisnya,” kata staf yang mendampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan, sambil berjalanan menuruni tangga menuju kendaraan, Jumat (27/04/18) sore.

Oleh Yunizar Adha
Pimpinan Redaksi