Kisah Zakaria Umar, Kakek Lansia Tinggal Digubuk Kumuh dengan Lauk Sambalnya
Kategori Berita

Iklan Halaman Depan

Header Menu

Rabu, 16 Mei 2018

Kisah Zakaria Umar, Kakek Lansia Tinggal Digubuk Kumuh dengan Lauk Sambalnya

banner
banner
Foto: Zakaria Umar terlihat sedang menutup Gubuk miliknya
BAKAUHENI – KALIANDANEWS RABU 16 MEI 2018

Ya, Namanya Zakaria Umar, seorang kakek lansia yang menghabiskan masa tuanya seorang diri tanpa sanak-saudara maupun kekasih. Ia tinggal di bawah bangunan gribik berbahan organik dan non organik mulai dari kain bekas, sampah plastik, pelepah pisang, pelepah daun kelapa serta dihiasi dengan tumpukan sandal bekas dan sampah lainya.

Sekitar Pukul 11.00 WIB, Rabu (16/05/2018), Kaliandanews berkesempatan berkunjung ke gubuk sederhana miliknya tersebut, Saat itu Zakaria terlihat tengah merapihkan gubuknya yang terletak di areal perkebunan milik warga, tepatnya di pelosok Dusun Belebu Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni.
Foto: Berbincang dengan Zakari Umar di salah satu rumah warga setempat
Senyum ramah diperlihatkan olehnya menyambut kami. Ketika itu Zakaria mulai bercerita tentang kisah hidupnya yang malang. Selama Empat Tahun terakhir dirinya hidup dengan kondisi itu. Mulai dari makan, tidur, hingga berganti pakaian ditempat tersebut "Saya sudah tinggal empat tahun di gubuk ini. Kalau makan biasanya saya masak sendiri lauknya hanya pakai sambal," kata Zakaria Tersenyum.

Berdasarkan cerita Zakaria, ia berasal dari Jawa Timur, dulu disana ia hidup dengan seorang pengasuh yang menjual sayuran. Sebab menurut pengakuannya, ia tak tau sampai dengan saat ini siapa kedua orang tuanya maupun keluarganya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk merantau ke Lampung pada sekitar tahun 1980-an.

“Asal saya dari Jember Jawa Timur, sebelum kesini saya dulu di Kotabumi, Pringsewu, Talang Padang, kemudian baru kesini. Pernah di Taman Sari Hatta, di Totoharjo saya sempat jadi tukang bengkel dan jualan jam,” ungkap Zakaria

Foto: Kondisi di dalam dan halaman gubuk
Zakaria juga bercerita, dulu ia sempat mencari kelapa untuk kemudian dijual kepasar dengan berjalan kaki guna untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Namun diusianya yang semakin menua, saat ini ia hanya mengisi hari-harinya berkeliling pasar untuk mengambil sisa buah-buahan serta barang-barang bekas.

“Saya disini tak punya keluarga mas tinggal sendiri. Dulu pernah juga kerja ditambak, kemudian saya juga nyari kelapa buat dijual. Tapi saya sekarang hanya keliling-keliling pasar saja ngeleles buah-buah sisa para pedagang, kalau ada rongsokan saya bawa ke gubuk,” Lanjut Zakaria seraya menunduk.

Tak kalah mirisnya, ia juga menceritakan kisahnya yang selalu gagal dalam pernikahan. Ia mengaku sebanyak tiga kali ia mengalami kegagalan saat hendak menikah. Oleh karena itu, hingga saat ini Zakaria tidak pernah menikah, terlebih mempunyai keluarga, yang notabennya menjadi impian setiap manusia.

“Dulu saya pernah mau menikah kemudian calonnya di ambil orang, padahal saya biayain hidupnya, saya belikan dia baju, sepeda dan lainnya. Tapi sayang menjelang pernikahan dia di ambil orang,” Ungkitnya sambil tersenyum.

Sementara itu, Kepala Desa Totoharjo Imam Bukhori, menjelaskan, Kakek Zakaria perlu mendapat perhatian dari Pemerintah setempat. Terutama mengenai kondisi kejiwaannya. "Dulu saat pertama datang kesini (tahun 1980), masih muda dan enerjik. Beliau juga sempat punya rumah di wilayah Totoharjo atas," katanya
Sebelumnya pengurus Desa bersama dengan warga sekitar, sudah berupaya untuk memberikan tempat tinggal yang layak bagi Kakek Zakaria. "Sudah tiga kali kami buatkan gubuk, namun berakhir seperti ini (penuh dengan sampah)," terang Imam.

"Beliau juga sempat diajukan menerima bantuan dari Dinas Permukiman. Karena syarat untuk mendapatkan bantuan itu yakni harus memiliki lahan sendiri, jadi gagal," imbuhnya memungkas.

Pantauan dilokasi, terlihat Kapolsek Penengahan AKP Enrico Donald Sidauruk beserta Camat Bakauheni Zaidan dan Koramil Setempat, juga ikut menyambanginya. Hingga berita ini diturunkan, kakek Zakaria Umar masih menikmati masa tuanya didalam gubuk kumuh tanpa penerangan. 

Penulis: Yunizar Adha
banner