UKM SPAB UIMandiri dan Mitra Bentala Bentuk Tim Siaga bencana Sekolah di SMPN 1 Bakauheni
-->
✕
Kategori Berita

Label

Iklan

Header Menu

Kamis, 24 September 2026

UKM SPAB UIMandiri dan Mitra Bentala Bentuk Tim Siaga bencana Sekolah di SMPN 1 Bakauheni




Www.kaliandanews.com, Bakauheni - Sebelum ancaman itu datang, warga SMPN 1 Bakauheni lebih dulu diajak mengenali risiko di lingkungan mereka sendiri dan menyepakati siapa berbuat apa melalui pembentukan Tim Siaga 
Bencana Sekolah dan Kajian Risiko Bencana Sekolah.

Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan di ruang kelas: jika 
bencana terjadi ketika proses belajar sedang berlangsung, apakah warga sekolah tahu harus berbuat 
apa? Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya menentukan berapa banyak nyawa yang bisa 
diselamatkan sebelum bantuan dari luar datang. Kesiapsiagaan, pada dasarnya, adalah pekerjaan 
yang harus selesai sebelum bencana terjadi, bukan sesudahnya.

Dari titik itulah SMPN 1 Bakauheni, yang berada di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten 
Lampung Selatan, mengambil langkah. Pada Rabu, 23 September 2026, sekolah ini menjadi lokasi 
kegiatan Pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS) dan Kajian Risiko Bencana Sekolah (KRBS), 
yang berlangsung pukul 09.30 hingga 12.00 WIB.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program SPRINT II, program Pengurangan Risiko Bencana berbasis Komunitas yang dijalankan oleh Mitra Bentala bersama Destana Desa Kelawi. Dalam 
pelaksanaannya, Mitra Bentala mengajak UKM SPAB UIMandiri untuk terlibat aktif dalam proses pembentukan TSBS bersama warga sekolah.



Kolaborasi ini melibatkan tiga unsur sekaligus: warga SMPN 1 Bakauheni sebagai pihak yang akan 
menjalankan sistem kesiapsiagaan itu sehari-hari, Destana Desa Kelawi yang membawa pengalaman 
kesiapsiagaan berbasis komunitas, dan UKM SPAB UIMandiri yang berbagi pengetahuan dari sisi 
akademik dan kerelawanan mahasiswa.

Pembentukan TSBS penting karena tim inilah yang kelak menjadi ujung tombak koordinasi ketika 
keadaan darurat terjadi di lingkungan sekolah, mulai dari evakuasi, pertolongan pertama, hingga 
pendataan. Tanpa pembagian peran yang jelas, respons terhadap bencana cenderung berjalan 
sendiri-sendiri dan rawan simpang siur.

Ketua UKM SPAB UIMandiri, Tozzy Guspa Robbi, sebagai narasumber dalam kegiatan ini, menekankan bahwa TSBS tidak boleh berhenti sebagai struktur administratif belaka.

"Tim Siaga Bencana Sekolah harus dipahami bukan sekadar sebagai struktur organisasi, tetapi sebagai mekanisme kelembagaan yang mengubah kesiapsiagaan dari pengetahuan individual menjadi 
kapasitas kolektif," ujarnya.

"Ketika pembagian peran, koordinasi, komunikasi, dan tindakan berbasis 
risiko telah menjadi bagian dari keseharian sekolah, maka kesiapsiagaan mulai berkembang menjadi 
budaya."

Semenara Itu Kabid Riset dan Pengembangan UKM SPAB UIMandiri,
Rully Ahmad Ihsan, Menjelaskan 
Proses pembentukan TSBS dan KRBS dilakukan secara partisipatif, dengan melibatkan langsung warga sekolah dalam setiap tahapannya.

"Pendekatan ini dipilih agar hasil kajian benar-benar mencerminkan kondisi nyata di lapangan, bukan sekadar rumusan yang dibuat dari luar tanpa 
melibatkan pihak yang paling memahami lingkungan sekolahnya sendiri". Ujarnya.

Kajian risiko yang dilakukan mencakup identifikasi ancaman, kerentanan, kapasitas, hingga tingkat 
risiko bencana yang ada di lingkungan SMPN 1 Bakauheni.

Hasil dari proses ini nantinya menjadi 
dasar bagi sekolah untuk mengenali kondisi dan kebutuhannya sendiri dalam memperkuat 
kesiapsiagaan, sekaligus pijakan bagi pembagian peran warga sekolah dalam menghadapi kemungkinan bencana.

Dalam kegiatan ini, UKM SPAB UIMandiri berperan sebagai mitra yang mendampingi proses 
pembentukan TSBS bersama Destana, sekaligus membuka ruang berbagi pengetahuan antara dunia 
akademik dan warga sekolah.

Sementara itu, Mitra Bentala dan Destana Desa Kelawi mengambil 
peran dalam memfasilitasi safety briefing di awal kegiatan serta memandu sesi Kajian Risiko Bencana 
Sekolah.

Pembina UKM SPAB UIMandiri, Ence Sopyan, S.Sos., M.A.P., menggarisbawahi bahwa membangun 
sekolah yang tangguh bukan berarti menjamin bencana tidak akan terjadi. "Resiliensi bukan berarti 
sekolah harus mampu mencegah seluruh bencana terjadi. Resiliensi adalah kemampuan untuk mengenali risiko, mempersiapkan diri, merespons secara tepat ketika terjadi bencana, serta belajar 
dan pulih setelahnya," katanya. "Karena itu, membangun sekolah tangguh harus dimulai dari membangun manusia yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan kemampuan untuk bertindak."

Kegiatan ini diikuti oleh 38 peserta, terdiri atas 30 warga SMPN 1 Bakauheni, 6 orang dari Destana 
Desa Kelawi, dan 2orang dari UKM SPAB UIMandiri. Rangkaian acara dibuka dengan registrasi 
peserta, dilanjutkan safety briefing oleh Destana, pembentukan TSBS bersama Destana dan UKM 
SPAB, sesi Kajian Risiko Bencana Sekolah yang difasilitasi Destana dan Mitra Bentala, sebelum 
ditutup dengan sesi kesimpulan.

Bagi SMPN 1 Bakauheni, kegiatan ini menjadi penanda dimulainya proses yang lebih sistematis 
dalam mengenali risiko dan menyiapkan warganya menghadapi kemungkinan bencana,sebuah 
proses yang, sesuai prinsip yang dianut TSBS, perlu berjalan berkelanjutan dan tidak berhenti pada satu kali pertemuan.


Ke depan, hasil pembentukan TSBS dan Kajian Risiko Bencana Sekolah ini diharapkan menjadi dasar 
bagi SMPN 1 Bakauheni untuk terus memperkuat kesiapsiagaannya, sejalan dengan semangat 
Program SPRINT II dalam mendorong pengurangan risiko bencana berbasis komunitas di Desa 
Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan.(Red)